Review Film: The Medium (RANG ZONG) (?)

Akhirnya yang dinanti datang jugaaaa!
Setelah hampir dua tahun pandemi melanda Bumi ini, dan segala aktivitas yang menyebabkan kerumunan banyak dibatasi, saat ini beberapa tempat umum sudah dibuka. Salah satunya adalah menonton di bioskop. Buat kamu para pecinta film, pasti sudah menantikan momen ini. Meskipun selama pandemi masih bisa nonton film di berbagai platform digital, tapi sensasi nonton film di layar lebar, berbeda dengan yang hanya nonton melalui televisi maupun layar gawai.
 
Bagi yang belum ke bioskop pasca pandemi ini, sebelum masuk bioskop pastikan kamu sudah Vaksin 2 kali ya, install aplikasi peduli lindungi, dan patuhi protokol kesehatan. Karena sebelum masuk, kita diwajibkan untuk scan barcode peduli lindungi yang ada di pintu masuk.
 
Ini adalah kali pertama saya dan suami nonton bareng di bioskop. Dengan pesatnya kemajuan teknologi, membeli tiket juga ga ribet dan ga harus ngantri, cukup menggunakan aplikasi pemesanan tiket bioskop, dan saat masuk bioskop tinggal pindai dan cetak tiket di tempat yang sudah disediakan.
 
Saat akan membeli tiket, bingung juga mau nonton film apa?
Dengan berbagai pertimbangan, dan beberapa kali melihat orang membahas film ini di YouTube, akhirnya kami putuskan untuk nonton Film The Medium.

 


Diawal film ini terlihat datar, dan sedikit membosankan. Namun dipertengahan sampai akhir, sepertinya saya lebih banyak menutup mata dengan tas. Meskipun begitu, saya masih mengikuti alurnya melalui suara, dan berisik nanya ke suami. Hahaha

Pasti nyebelin banget ya, nonton horor di sebelah saya. Wkwkwk
Saat menutup mata, kadang curi-curi melihat ke layar. Beberapa kali di komando juga sama suami.
 
"jangan buka mata, adegannya lagi menjijikkan".
 
Rasanya pengen keluar bioskop, tapi suami masih nyaman nonton, dan pasti penasaran. Tidak terasa dan tiba-tiba lampu bioskop sudah menyala.
 
"Lho, kok udahan?"
"Lho, jadi endingnya mati semua? Kok bisa?"
 
Ya, efek setiap nonton film kebanyakan happy ending jadi aneh aja lihat film kok kayak nanggung gitu. Muncul banyak pertanyaan. Karna sudah terlalu lama berada di Mall ini, kami memutuskan untuk pindah Mall, dan masih membahas film ini saat di jalan.
 
Setelah refresh otak di toko buku, dan melupakan suara-suara yang ada di film tadi, akhirnya kami pulang. Tapi eh tapiiii, sampai di rumah tetiba kepikiran dan penasaran doooong~
 
Akhirnya berselancar di youtube, mencari yang sudah membahas film ini. Dan, nemu dong channelnya Bang Hiro, yang lumayan mantab review filmnya.


Pas lagi nonton, kok gamblang banget, kayak nonton di bioskop tadi. Akhirnya saya stop videonya, lanjut menggulir kolom komentar. Daaaaaaan, nemu deh komentar yang menurut saya ini menjawab beberapa pertanyaan saya dan suami. Komentar dari Kak Nurhayati Syantik ini berada didalam komentar Kak Aubree Charlee.
 
Menurut saya, keren banget sih kak Nurhayati dalam menjabarkan dan menganalisa film ini. Nah, karena ini berada di kolom komentar, dan satu-satunya yang bener-bener ngejawab keganjalan saat nonton film The Medium, akhirnya saya salin di blog ini. Mungkin nanti jika Kak Nurhayati tidak berkenan komenya saya tulis di blog ini, bisa kontak saya ya Kak :D

+======================+

Analisis Sotoy The Medium menurutku:

Secara garis besar film ini menceritakan  antara santet turun temurun (karma) yang diselingi dengan bumbu-bumbu lain berupa kepercayaan lokal (tradisi mewarisi dewa Bayan). Persinggungan antara si Willoy (yang dikutuk) dengan keluarga Noy (yang mewarisi tradisi dewa Bayan).


Ulas tokoh (yang menurutku penting):

Min : Korban santet turun temurun, medium dari roh jahat untuk balas dendam.
Noy : Orang yang nolak mewarisi dewa Bayan, bahkan sampe pindah ke Katolik, tapi sempat juga dia hendak kembali percaya dewa Bayan ketika kepepet untuk membantu anaknya "sembuh".
Nim : Korban dari semuanya, penyabar, intinya dia baik cuma sia-sia.


Cerita:
Jadi, diceritakan bahwa si Willow ini dikutuk, entah dia atau leluhurnya (lupa) yang dikutuk karena melakukan dosa-dosa. Hal itu disebabkan karena dia melakukan pembantaian, dan dosa lain misalnya pembakaran pabrik (pamannya?) dengan sengaja supaya dapat asuransi. 

Nah diceritakan juga (menurut dukun di akhir) kalau korban pembantaian itu ada yang selamat sehingga dia lah yang ngutuk keluarga ini makanya keluarga ini nasibnya begitu malang turun-temurun. Si Willoy yang kemudian nikah nama noy akhirnya mewariskan kutukan (karma) tersebut kepada anak-anaknya. 

Diceritakan juga oleh Nim (di awal film pas nyetir mobil), kalau keluarga mereka ini Malang, ayahnya (Willoy) meninggal, kakeknya meninggal ditimpuk batu sama orang, Mike yang meninggal karena kecelakaan (padahal bunuh diri), ya itu menurutku ya karena semua santet atau kutukan itu, karma akibat mereka kejam di masa lalu.

Di lain sisi, ada kepercayaan lokal yang dianggap sebagai sosok yang baik, pelindung, penyelamat, yaitu dewa Bayan. Sebenarnya, dewa Bayan ini (selain emang udah takdir secara turun temurun merasuk ke Noy) dia juga tau kalau keluarga ini kena santet turunan si Willoy, maksudnya selain emang udah keharusan buat masuk, dia juga hendak menolong keluarga ini, makanya si noy masih aman-aman aja malahan pindah ke anaknya duluan itu santet, kenapa? Karena sebenarnya dewa Bayan masih ngincer Noy buat wadahnya, bukan udah masuk ke Nim itu pengalihan isu doang.

Namun, Noy yang seharusnya jadi wadah dewa bayan ini malahan gak mau, nolak, gak mau jadi dukun, pindah agama, parahnya lagi malah dia ngasih benda benda yang dia pake ke Nim pas usia dia masih 20an biar yaudah sono lu masuk aja ke Nim (kasarnya gitu). Nah karena ya udah lama juga ya, proses pemasukan begitu kan dari usia 20 tahunan, sedangkan sekarang sendiri Noy udah tua. 

Ya menurutku dewa bayan sebagai sosok baik udah ngerasa gak dianggap lagi, sekian lama dia udah berusaha bantu tapi malah dihalang-halangi sama orang yang mau dia bantu sendiri. Jadi, yaudah dewa bayan ini akhirnya hilang kekuatannya dan si kutukan ini udah paten, udah gak ada yang ngalahin. 

Ini kita bisa lihat dari mimpi Min yang bilang kalau dia lihat pria besar, kakinya menjuntai, memegang parang, menjilati parang itu, dan ada seseorang dengan kepala terpenggal. Nah menurutku ya, ini sebagai perwujudan santet (roh jahat) yang mengalahkan dewa bayan (tokoh pelindung) toh dikasih liat juga kalau kepala patung dewa bayan itu jatuh. 

Dewa bayan udah gak ada power karena sekian lama gak dipercaya lagi sama pewarisnya, makanya dia kalah. Selain itu, min juga bilang bahwa kepala itu hendak berbicara kepadanya, tetapi ia tidak bisa mendengarnya. Kenapa? Manurutku ya karena Min aja gak percaya sama dewa Bayan, dia malah ngolo-ngolok tradisi ini (bisa diliat dari dia ketika dimintain pendapat dan baca bacain mantra sambil ngeledek pas diwawancarai di kantor).


Sebenarnya, dari awal film hingga mimpi min tadi itu menurutku ya alur film udah selesai hehe, udah bisa nebak nih ending film kayak gimana, tentunya tokoh baik pasti kalah. Penonton tinggal nikmati aja apa yang disuguhkan. Tapi, masih ada satu kemungkinan, yaitu lewat ritual utama di akhir, tapi sayangnya ya sayangnya, gagal karena pintu udah dibuka sebelum ritual selesai. Jadi ya sia-sia juga.

Sebenarnya, dari awal film hingga mimpi min tadi itu menurutku ya alur film udah selesai hehe, udah bisa nebak nih ending film kayak gimana, tentunya tokoh baik pasti kalah. Penonton tinggal nikmati aja apa yang disuguhkan. Tapi, masih ada satu kemungkinan, yaitu lewat ritual utama di akhir, tapi sayangnya ya sayangnya, gagal karena pintu udah dibuka sebelum ritual selesai. Jadi ya sia-sia juga.


Pertanyaan-pertanyaan: 

Tanggapan tentang Nim?
Nim ini sebenarnya gak dirasuki dewa bayan (keterangan terakhir di akhir film sebelum Nim meninggal). Dia ini cuma nerima ibaratnya, ngalah sama kakaknya, walupun dia disakiti oleh kakak nya sendiri (Noy) karena ya usia 20an noy ini ngasih barang-barang yang dia pake ke Nim (kesaksian dari si roh jahat pas kerasukan Nim di kamar). Tapi Nim diem aja, dia sebenarnya udah tau, tapi yaudah ngalah aja, gak papa dianggap pewaris dewa bayan biar gak ciptain kegaduhan. Walaupun dia menunjukkan gejala seperti ingin dirasuki dewa Bayan, tapi sebenarnya bukan, itu cuma efek dari barang-barang yang dikasih aja. 

Nim juga sebenarnya benci banget sama keluarga ini, tapi dia juga gak mau ngebiarin Min meninggal gitu aja (menurut Nim pas lakuin ritual telur), artinya dia masih miliki niat baik. Tapi ya bingung juga, dia ini sebenarnya cuma dukun biasa, gak punya power kuat karena dewa Bayan gak masuk ke dia, maka dari itulah ketika dia dimintain pertolongan untuk bantu Min seakan akan dia gak mau, dia malah kasih ke dukun lain aja yang lebih sakti (dukun di akhir). 

Terus kenapa dia mati dari dalem padahal kamar dikunci? Karena itu ritual pengorbanan (dia bilang sendiri) awalnya dia mau lakuin di gunung, tempat dewa bayan (tapi dewa bayan udah kepenggal, dia histeris), makanya dia lakuin di rumah. Pengorbanan dia gagal karena di altarnya banyak belatung(?) and altarnya juga berantakan. 

Nim nangis di ending karena sebenarnya Nim tahu kalau segala usahanya itu bakalan sia-sia tapi dia masih mau bantu, dewa bayan juga udah pergi. Santet udah paten.
 

Tau dari mana santet?

Karena pas di ending, ketika Noy dibakar anaknya, kamera nyorot boneka santet dengan banyak paku. Selain itu, koneksi antara yang meninggal dengan yang sedang disantet bisa diliat dari pas ritual telur Nim bilang "aku tertipu", bukan Mike, karena Mike juga korban santet (telur yang dipecah ada carian warna hitam). 

Cairan warna hitam ini pertanda kalau orang tersebut kena kutukan/santet, kita bisa lihat dari jari Min yang pas kerasukan dan dimasukkan ke gelas itu keluar cairan hitam, pas muntah juga kena cairan hitam. Kenapa sih boneka itu adanya digedung itu? Begitupun Min kenapa ada di gedung itu pas ditemuin? Karena di situlah salah satu manifestasi keburukan dan kekejaman keluarga mereka. Hal ini berkaitan di awal film yang bilang kalau kepercayaan mereka itu segala benda punya roh. 

Nah di gedung yang dibakar ini kan kompleks rohnya, ada roh tanaman, gedung itu sendiri, hewan-hewan, sama barang barang keramat (diceritain di film). Makanya ini tempat cocok buat ngesantet orang yang udah lakuin itu karena bakalan punya power yang kuat. Itulah sebabnya mengapa dukun di akhir bilang kalau Min ini bukan cuma kerasukan satu atau dua doang, tapi banyak banget. 

Selain itu, ia juga dirasuki anjg, ini akibat si Noy jualan ajg untuk konsumsi. Roh ajg dendam ke mereka, makanya pas kerasukan itu pengikut pengikut si dukun pada jadi ajg. Min yang kerasukan ajg pas di rumah juga iri ngeliat ajg yang putih itu dipelihara, makanya dia direbus (buat makanan juga).
 

Ada tulisan apa sih di mobil itu pas ritual akhir?
Kata temen-temenku itu tulisan nama Min, itu teknik pengelabuan arwah, sama kayak benda-benda Noy yang dikasih ke Nim. Biar si arwah ngikutin, makanya pas ritual Min di rumah disegel. Rohnya dipancing buat ngikutin mereka dengan teknik pengelabuan itu. 

Dengan niat ini semua roh jahat mau dikeluarkan melalui perantara ibunya (Noy) kemudian disegel di gitu (di dalam kendi?). Tapi gagal karena pintu udah dibuka duluan, akhirnya roh di dalam kendi itu bebas dan ngerasuki orang-orang di sana. Hal yang beginian juga aku liat di film thirteen terrors kalo gak salah, yang episode sengaja buat foto diri kita meninggal dan dipajang, itu supaya roh jahat gak gangguin kita karena ngira kita udah meninggal.
 

Alasan lain tau Nim gak dirasuki Dewa Bayan?
Selain dari keterangan Nim di ending film. Bisa juga tau dari percakapan antara Noy dan Nim. Intinya Noy menanyakan kebenaran dewa bayan, terus dia juga nanya apakah Nim beneran pernah ketemu dewa bayan. Nim jawab enggak, cuma bisa merasakan. Ya itu, seharusnya orang yang mau dirasuki dewa bayan ketemu dulu. Kan dulu Noy yang hendak dirasuki, jadi dia tau. Nim cuma bisa merasakan karena efek teknik pengelabuan roh atas benda benda Noy yang dikasih ke Nim.


Ada hal yang belum jelas?
Ada!
1. Alasan tim dokumenter atau apalah itu nyelidiki kehidupan dukun di sana gak diceritakan buat apanya, atau motivasinya apa.
2. Maksud nenek buta yang meninggal? Apa itu pertanda doang kalau kita buta melihat kenyataan yang ada, segala kebaikan yang berusaha membantu akan membuat diri kita bernasib buruk (meninggal).
3. Kenapa Min kepergok begituan sama orang lain di kantor? Kenapa dia juga nyuri bayi kakaknya Noy? Kenapa dia juga bilang kakaknya Noy suka gadis yang masih muda? Apa perbuatan itu dosa dan dilarang juga? Makanya arwah yang merasuki Min marah?
4. Apa maksud orang yang diliat Nim di sawah? Yang di zoom sama kameramen itu, kayak yaudah gitu aja.
5. Kenapa si Noy ngaku dirasuki dewa bayan di akhir? Apa itu cuma akal-akalan doang? Kan dewa bayan dah pergi makanya dia sendiri gak bisa ngelawan anaknya, baca mantranya aja gagal wkwkwk. Masih bingung di situ.

 

Kelemahan?
Ada, di sisi kameramen yang seakan cuma ngerekam doang, lebih ke useless. Selain itu juga pada beberapa bagian, gak nunjukkin sisi reflek sebagai manusia. Bukannya bantuin nahan si Tante buat jangan buka pintu malah asik ngerekam.

Udah tau badannya ancur, masih sempet sempetnya pegang kamera. Mungkin itu yang perlu diperbaiki.
 

Pesan moralnya apa?
Ya intinya sebagai manusia, gak usah berbuat jahat. Segala perbuatan jahat kita akan ada akibatnya, bukan cuma ke diri kita, tapi bisa juga kepada generasi penerus kita walaupun mereka gak berbuat salah. Selain itu, dengan menganggap segala hal itu memiliki nyawa dan arwah, kita sebagai manusia gak boleh berbuat sembarangan dan seenaknya.
 
Selain itu, yang aku rasain dari film ini 11 12 sama yang aku rasain ketika nonton film the wailing, (karena sama sama garapan dari na Hong jin? Mungkin)
 
Hal yang sama:
1. Sama sama sifatnya yang memanjakan mata di awal dan dihajar abis abisan di akhir.
2. Sama sama mengangkat kegiatan perdukunan/santet dengan disinggungkan dengan masalah lain.
Kalau di the wailing disinggungkan dengan jamur yang buat penyakit. Kalau di sini disinggungkan dengan tradisi dewa bayan yang memasuki tubuh manusia. Tujuannya sama? Yaitu sama sama ngebuat penonton bingung.
Ini sebenarnya kena santet atau kena penyakit jamur. Ini kena santet atau dirasuki dewa bayan. Gejala awalnya pun sama, kalau di the wailing ya ruam ruam, panas. Kalau di sini menstruasi.
3. Sama sama berlatar pedesaan atau mengangkat kesederhanaan kondisi perdesaan. Tujuannya ya biar makin sakral dan relate aja magisnya.
4. Pihak baik sama-sama udah berusaha banyak bantu di awal, ngasih klu. Tapi tokoh yang dimasalahin atau kena santet ini kekeh. Gak mau percaya. Akhirnya iblis nya yang menang. Kalau di the wailing itu dari pendapat warga (mertuanya?) sama si wanita pakai pakaian putih. Kalau di sini  melalui Nim dan dewa Bayan.
5. Sama sama anak yang kerasukan. Tokoh yang ngeyel pun sama sama-sama orang tuanya. Kalau di the wailing itu ayahnya, kalau di sini itu ibunya.
6. Sama sama udah bisa ditebak endingnya gak sampe akhir film. Bahkan di the wailing makna film udah kegambar cuma dengan adegan mancing di sungai. Kalau di sini udah ketebak dari mimpi Min.
7. Sama sama mati semua, endingnya yang menang iblis.
8. Tapi pihak baik masih bisa menang, at least gak mati semua deh, keduanya sama sama punya sisi yang menentukan. Kalau di the wailing itu menentukannya pas disuruh jangan pulang dulu sebelum ayam berkokok tiga kali(?). Kalau di sini disuruh jangan buka pintu kamar Min. Kalau enggak nurut ya habis sudah.
9. Keduanya sama sama punya ending scene yang lumayan bikin terang maksud film. Kalau di the wailing kayaknya udah termasuk bagian yang deleted deh, soalnya nanti penonton terlalu mudah buat ngerti. Kalau di sini ya wawancara Nim dengan tim dokumenter.
10. Sama-sama punya banyak layer, gak satu layer doang, makanya munculin banyak teori hehe.
11. Sama-sama gak cukup nonton 1x, harus berkali-kali baru setidaknya bisa membuat teori yang menyenangkan hati meskipun gak tau kebenarannya.

Overall 9.5/10. Tapi horror begini bakalan punya dua sisi ke penonton, apakah ngerti dan bikin takut, ataukah malah ngolok-nglok "ini film apa sih, gak jelas, gaje". Menurutku ini the wailing versi Thai.

Sekian, analisis sotoy dari aku. Tapi aku juga masih nemuin teori teori lain yang at least make sense. So far baru teori di atas yang aku temuin hehe. Silakan berdiskusi untuk menemukan teori baru.

Terima kasih.

+======================+

Itu tadi ulasan yang saya baca pada komentar didalam komentar, akhirnya rasa penasaran saya dan suami sedikit terjawab. Buat yang masih penasaran cuss nonton aja langsung filmnya.
 
Buat Kak Nurhayati, terima kasih banyak atas penjelasannya ya, dan rela ngetik panjang-panjang demi mengobati rasa penasaran orang-orang macam kami ini.
 
Terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca :)

 

Post a Comment

0 Comments