Sepenggal Kisah Pelajaran Bahasa Indonesia

Bisa membaca sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak tidak  membuatku hobi membaca. Meskipun minat bacaku rendah, namun bertolak belakang dengan hobiku yang suka membeli dan mengoleksi buku. Mulai dari buku partitur lagu, novel-novel yang di film-kan sampai koleksi buku-buku pelajaran.

Di baca??
Engga dong! (ノ◕ヮ◕)ノ*.✧

Aku ingat saat kelas 1 SD, teman-teman masih belajar membaca dengan mengeja, sementara aku hanya diam saja saat pelajaran membaca. Entah merasa bosan atau bagaimana, karena sudah lancar membaca, bagiku mengeja itu melelahkan.

Sampai suatu ketika, pada masa SMA yang mengharuskan siswa siswi untuk membuat sebuah cerpen sebagai syarat kenaikan kelas. Uugh, rasanya mau nangis, marah, campur aduk.

Aku tidak benci pelajaran bahasa Indonesia meskipun sampai sekarang masih bingung menerapkan SPOK. Aku tidak anti pelajaran Bahasa Indonesia, meskipun sering remedial saat ulangan. Aku masih tetap suka bahasa Indonesia meskipun sudah mau kejang-kejang dengan tugas membuat cerpen sebagai syarat naik ke kelas XI.

Tugas membuat cerpen itu boleh di tulis tangan, boleh juga di ketik, yang terpenting syaratnya harus menggunakan kertas HVS dan di jilid serta harus ada cover.

Sampai dipenghujung batas akhir pengumpulan, aku berusaha sekuat tenaga untuk menggoreskan tinta diatas kertas, merangkai huruf menjadi kata. Sudah tidak perduli dengan hasil akhirnya, yang penting tugas selesai dan segera di kumpul.


Entah berapa nilainya aku tidak perduli, tapi aku rasa tugas ini memang tugas wajib, namun tidak terlalu berpengaruh pada nilai akhir di raport. Tapi kalau tidak mengumpulkan tugas, sepertinya memang tidak diloloskan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. (Ini hanya praduga ku saja).

Singkat cerita akhirnya naik ke kelas XI sesuai dengan jurusan yang ku inginkan.

Yang terpilih masuk jurusan IPA dari kelasku saat itu hanya 10 orang, alhamdulilah aku salah satunya. Namun yang membuatku merasa lucu adalah, semua pelajaran IPA ku remedial saat ujian kenaikan kelas. Tapi ada satu yang mencolok, nilai matematikaku lumayan tinggi. Mungkin itu yang mendongkrak dan menjadi bahan pertimbangan Bapak Ibu pamong untuk memasukkanku ke dalam jurusan IPA.

Waktu berlalu, banyak kegiatan yang ku ikuti selain belajar di dalam kelas. Saat itu, kalau tidak salah sedang ada acara sarasehan, namun tidak wajib di ikuti semua siswa, hanya yang berminat saja. Acara itu boleh di ikuti oleh semua kelas.

Bertempat di ruang Audiovisual, ruangan yang cukup besar di area kampus sekolah, jarang di gunakan untuk KBM, acara itu didatangi oleh pujangga lama. Serius saya lupa beliaunya siapa, tapi yang melekat di otak saya kalau tidak salah beliau WS Rendra, soalnya yang saya ingat beliaunya sudah sepuh, namun saya sempat mendapatkan tanda tangannya. Tapi, karna hidup nomaden tanda tangan yang saya simpan dibinder itu lenyap. Tidak tahu bindernya berada dimana sekarang :')

Saat di acara itu, intinya mah acara tentang tulis menulis. Membuat puisi, membuat cerpen dll. Di pandu dengan Ibu Eka Enovasi sebagai guru Bahasa Indonesia kami, saat itu sesi apa aku lupa, yang jelas bikin syok dan malu lah pokoknya.

Kenapa? Karena cerpen yang pernah ku buat ada di sana. Kemudian tumpukan cerpen itu dibagikan kepada masing-masing penulisnya.

Rasanya mau nangis akutuh bacanya ༎ຶ‿༎ຶ
Bahkan tulisan anak kelas 1 SD aja tuh lebih bagus dari tulisanku saat itu. Malu campur aduk lah pokoknya. Meskipun yang membaca hanya Bu Eka, rasanya malu sekali. Mungkin aku satu-satunya murid yang mengecewakan saat itu.

Isi cerpen yang ku buat seputar liburan di rumah nenek. Persis seperti kisah anak TK saat berlibur di rumah neneknya. Entahlah, sepertinya karena terlalu keberatan beban hidup sampai-sampai disuruh membuat cerita pendek yang menggunakan imajenasi saja aku tuh zonk. (´;︵;`)

Walau begitu aku tetap berusaha suka Bahasa Indonesia. Terima kasih Bu Eka, bagiku Ibu sangat berkesan. Apalagi ruang kelas Bahasa Indonesia menyimpan banyak cerita.

Membaca Cerpen di depan kelas, di tunjuk maju menuliskan alamat dengan benar, remedial bahasa Indonesia yang semakin hari semakin rajin remedial. Tapi Bu Eka tetap berkesan di hati.

Tetap sehat ya Bu, meskipun sudah tidak mengajar di sekolah kami dulu, tapi aku masih berharap bisa bertemu ibu walau hanya sekedar untuk mencium tangan Ibu.

Siapapun teman SMA atau Bu Eka sendiri kalau nyasar ke sini, mana tahu ingat dengan cerita diatas mohon koreksinya..(⊃。•́‿•̀。)⊃

Aku mungkin tidak berbakat dalam dunia tulis menulis. Tapi takdir disuatu ketika harus mengulang kejadian yang sama. Tugas akhir untuk menyelesaikan Strata Satu. Berat memang, tapi dari sana aku mencoba belajar dan mau tidak mau harus bisa nulis.

Sampai banyak sekali blog yang ku buat, tapi ngga ada yang jadi satu pun. Semuanya tidak tentu arah. Nyasar kemana-mana. Namun harapan untuk konsisten nulis selalu ada.

Semoga dengan menulis aku bisa memaafkan dan berdamai dengan masa lalu, serta bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi untuk sesama.

Tapi aku sadar, kesalahanku ada di ketidak sukaanku dalam baca membaca. Padahal hobiku mengoleksi buku. Tempat favoritku dari zaman  SMA adalah perpustakaan, tapi sedihnya minat bacaku sangat rendah. Sedangkan jika ingin menulis, harus banyak-banyak membaca. Itulah yang pada akhirnya ku sadari, dan saat ini mau tidak mau, suka tidak suka, harus mau untuk membaca. Apapun itu, novel, cerpen, komik, yang penting membaca.

Kita memang tidak bisa mengulang kenangan manis pahit di masa lalu, tapi kita masih bisa memperbaiki segalanya untuk menjalankan masa depan.

Terima kasih sudah mampir dan membaca, semoga tulisan ini ada manfaatnya ya...
(つ✧ω✧)つ

Post a Comment

0 Comments