Wong Jowo Ora Njawani

Banyak bahasa yang sudah terkikis karena penuturnya sudah mulai berkurang. Tidak hanya bahasa daerah, kita lihat saja Bahasa Indonesia yang sudah bercampur aduk dengan bahasa asing. Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa, lalu siapa lagi? Yuk lestarikan bahasa daerah kita, jangan sampai punah. Mengenaskan sekali jika kita yang mempunyai bahasa, justru belajar dengan orang asing yang lebih menguasai.

Lelah sepulang kerja seharian, melihat WhatsApp tidak ada notifikasi hati tergerak untuk membuat story. Hal alay yang saya lakukan ketika ingin mencari perhatian dari orang lain. Tidak ada foto terbaru, tidak ada tempat wisata yang saya kunjungi selama dua minggu terakhir ini. Bingung mau mengunggah apaan, akhirnya saya scrol galeri sampai ke jepretan paling lama. Tiba-tiba saya senyum-senyum sendiri melihat foto bapak tua yang sedang duduk dibawah pohon, teringat akan kejadian waktu itu.

Bukannya mengunggah status, eh malah membuat tulisan ini. Hahaha... Saya mencoba mengingat kejadian itu, yang pasti sih sudah lama sekali, kira-kira dipertengahan 2016. Ya, saat itu sepertinya saya baru-baru saja menjadi seorang pengangguran setelah memutuskan resign dari tempat kerja saya terdahulu.

Saya tidak mau menikmati kegalauan ini sendirian, menjerumuskan teman yang senasip saya pikir tidak ada salahnya kan? Setelah menentukan tempat tujuan, diwaktu yang sudah ditentukan akhirnya kamipun berangkat. Sebuah tempat di dataran tinggi, bisa menikmati kebesaran Tuhan. Melihat kota Jogja dari ketinggian. Biasanya saya kesini malam hari sih, pemandanganya seperti di Bukit Bintang tapi masih bagus dari sini karena sepi dan jauh dari polusi.

Ratusan anak tangga menuju Goa Cerme yang berada di perbatasan Imogiri dan Gunung Kidul, mengingat masa muda yang dengan gagahnya menapaki anak tangga demi anak tangga menembus kegelapan malam. Kerinduan itu muncul, resah rasanya jika tidak diobati. Awalnya sempat ragu-ragu, tapi akhirnya kami memutuskan untuk tetap melangkahkan kaki diatas anak tangga tersebut.

Ditengah perjalanan napas tersengal dan rasanya kaki sudah lelah untuk mendaki. Kami memutuskan istirahat sejenak dibawah pohon yang lumayan rindang. Dari tempat kami duduk, tersaji pemandangan yang serba hijau, segar rasanya mata dan pikiran ini. Sambil saling curhat sesekali kami berdecak kagum dengan apa yang kami lihat didepan mata.

"Percaya ngga kalau ada orang bersepeda lewat tangga-tangga sini?"
"Hah? emang bisa?"
"Bisa, ngga tau mereka dari mana, tapi dulu pernah berpapasan sama rombongan pesepeda yang turun lewat sini".

Lagi asik-asiknya cerita hal-hal absurd, tiba-tiba terlihat seorang bapak tua yang sedang berjalan menuju kearah kami. Tiba-tiba beliau duduk didekat kami, entah bagaimana kami sudah akrab saja ngobrol dengan beliau. Bapak itu menanyakan banyak hal kepada kami. Mulai dari menanyakan asal, sampai ke hal yang sedang kami galaukan.

"Lha mbak e asli mana?"
"Kulo tiang sumatera pak, hehe"
"Lha kok malah bisa bahasa jawa halus"
"sedikit-sedikit pak, orang tua saya asli jawa :)"

Bapak tersebut heran dengan kami berdua, yang satu asli jawa, lahir dan besar dijawa tapi malah menggunakan bahasa Indonesia.Sedangkan saya yang orang sumatera justru bisa berbahasa jawa halus. Buat saya ini hal yang wajar, tapi tidak untuk dimaklumi. Banyak sekali teman-teman saya yang asli Jogja tapi justru malah tidak pandai bertutur jawa.

Kebanyakan dari mereka tidak bisa bahasa kromo atau bahasa jawa halus, karena alasan tersebut mereka lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia ketimbang bahasa ngoko. Tidak ada yang salah sih, tapi kalau hal ini kita maklumi terus menerus maka bisa-bisa bahasa jawa akan punah.

Punah? Ngga mungkin lah! Penutur bahasa jawa masih banyak kok.
Yakin masih banyak? emang sih banyak, tapi justru digunakan oleh orang yang bukan asli jawa. Padahal diluaran sana, orang-orang malah bangga lho belajar bahasa jawa, tapi anak muda sekarang malah justru semakin sedikit yang menggunakan bahasa jawa (terutama bahasa jawa halus).

Meskipun banyak sekali lagu-lagu bahasa jawa yang sekarang banyak menjadi tranding di youtube, tapi kebanyakan hanya bahasa-bahasa ngoko atau bahasa osing. Sekali lagi saya tidak menyalahkan, bahasa jawa itu kan banyak sekali, di Jogja saja antara bahasa Gunung Kidul dan Bantul pasti ada yang tidak sama. Tapi sangat disayangkan penutur bahasa jawa halus dikalangan kaula muda sudah sangat sedikit sekali.

"Jowo ning ora njawani"
Kata-kata jleb untuk anak muda saat ini. Saya pun sempat tertohok oleh kata-kata itu. Saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut melestarikan bahasa jawa, karena saya tidak bisa merubah takdir, bahasa ibu saya adalah bahasa jawa.

"Sanes sampun dahar? tapi kudune sampun nedo?" Bapak tersebut menjelaskan perbedaan penggunaan kata dahar dan nedo. Ya meskipun saya sendiri sedikit bingung dan baru  tahu ternyata kalau dengan orang tua tidak boleh bertanya dengan kata "dahar" tapi cukup dengan "maem" saja sudah sopan. Pertemuan singkat yang mengajarkan kami banyak hal dan harus lebih perduli lagi dengan bahasa jawa.

"Lha bapak daleme sekitaran mriki nopo ajeng teng goa?"
"Kulo nembe tirakat mbak, wong wes tuwo ki opo sing di golek? Gur arep mensyukuri nikmat seko Gusti".

Singkat cerita, bapak tersebut sedang mengadakan tirakat di Goa Cerme, ngga usah ditanya itu apaan, karena saya juga ngga tau. Hahaha... Sudah ditinggalkan oleh istrinya beberapa tahun yang lalu, anak-anaknya sudah sukses menjadi pegawai negeri semua. Bapak tersebut menghabiskan masa tuanya dengan melakukan perjalanan-perjalanan spiritual.

Banyak obrolan dengan beliau, tapi saya bingung menyusun kalimat demi kalimat, dan sudah banyak yang lupa juga. Inti dari tulisan ini, meskipun bahasa jawa banyak penuturnya tapi semakin lama semakin sedikit yang menggunakan, terutama bahasa jawa halus. Kalau dulu ditempat saya, anak-anak kecil sampai usia TK pasti menggunakan bahasa ibu. Yang jawa ya pakai bahasa jawa, yang sunda ya pakai bahasa sunda. Ketika masuk pra sekolah, barulah kami diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.

Saya bangga berada di lingkungan yang random, dibesarkan disebuah daerah yang memiliki suku berbeda-beda. Tapi justru kami banyak menguasai bahasa daerah. Miris rasanya melihat anak-anak kecil sekarang sudah jarang yang dibesarkan dengan bahasa ibu. Mereka bangga jika anaknya bisa berbahasa asing.

Semua tidak ada yang salah, tapi alangkah baiknya jika tetap mengajarkan bahasa ibu ke anak-anak kita. KITA? hahaha, iya deh iya, saya emang belum punya anak -_- maksudnya gitu deh, pasti tau lah maksud saya. Menguasai banyak bahasa kan tidak ada ruginya tho? Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa daerah kita, lalu siapa lagi? Apa mau kelak anak cucu kita justru belajar dengan orang asing untuk mengerti bahasa nenek moyangnya?


Post a Comment

0 Comments