Aku Dan Telo, Hati-hati Investasi Bodong!!!


Ketela atau tela atau singkong atau yang biasa kita sebut ubi adalah termasuk makanan pokok. Ibu saya sering bercerita kalau dulu makanan utamanya adalah ubi. Nasinya dari ubi, lauknya ubi, sayurnya daun ubi, dan cemilannya adalah ubi! Semua serba ubi. Mulai dari oyek, tiwul, lemet, keripik, dan macam-macam olahan yang semua itu bahan dasarnya ya ubi.

Cerita saya dan ketela atau telo membawa kesebuah trauma dengan yang namanya "dering telfon". Hah? Hubunganya apaan? Sebelumnya saya mau membuat desclaimer nih, tulisan saya ini tidak untuk menjelekkan pihak manapun, hanya membagikan pengalaman dan menginformasikan kepada pembaca blog saya agar berhati-hati dalam berinvestasi.

Sebenernya mau bahas apaan sih Hid, kok muter-muter!
Sabar dong, kan mukodimah dulu, hahaha


Diakhir tahun 2015 lalu saya sempat bekerja disebuah CV yang memiliki banyak cabang usaha. Salah satunya adalah sebuah investasi dengan yang namanya TELO. Anda punya modal? silahkan tanam diperusahaan kami, maka akan kami sulap menjadi perkebunan telo yang menghasilkan sekian kali lipat dari modal, jangkanya satu tahun.

Saat itu banyak sekali yang menginvestasikan sebagian uangnya dan tertarik dengan tawaran para marketing yang sudah memasarkan si telo tersebut. Singkat cerita, perkebunan itu tidak nyata. Survey tempat, difoto, lalu meyakinkan para investor bahwasanya si telo ini sudah ditanam dan akan dipanen pada masanya.

Sampai pada kasus yang sudah berdesas desus, saat itu saya sih ngga tahu apa-apa. Tapi yang saya tahu, nanem telo dari masa penanaman sampai panen kayaknya ga sampai satu tahun deh. Apalagi kalau dilakukan perawatan dan pemupukan. Sempat heran aja, seingat saya mbah saya nanem telo yang paling lama panen adalah telo yang dicangkok (bawahnya telo biasa, tapi atasnya disambung dengan telo karet), kalau jenis telo yang ini bisa jadi sih sampai satu tahun. Tapi yang ditawarkan dari perusahaan itu kan telo biasa.

Setiap hari dering telpon kantor selalu menanyakan "kapan panen?", "kapan saya bisa menikmati hasil dari investasi?".
Eh ngga main-main lho mereka investasi bukan cuma seratus dua ratus ribu, tapi puluhan juta!

Saya yang pada waktu itu menjadi staff admin di devisi lain pun akhirnya kena semprot para investor. Padahal saya tidak tau duduk permasalahannya. Setiap ada telpon, staff yang lain nyaris tidak ada yang mau mengangkat telepon. Mulai dari hasutan untuk disuruh keluar dari tempat kerja tersebut, sampai mendengarkan semua curhatan dari para investor.

Gila! saya pikir scam cuma ada di dunia maya. Dimana saya invest bitcoin, satu dua bulan panen, eh modal belum balik ngga taunya tuh situs udah scam aja. Lebih dari itu, saya melihat the real scam!. Ngeriiii memang.

Karena kontrak kerja saya sudah habis, dan lingkungan kerja yang sudah tidak sehat, akhirnya saya memutuskan untuk resign tanpa mengajukan surat resign. Lelah menghadapi pekerjaan utama, ditambah bos yang kabur-kaburan atas kasus investasi bodong tersebut, belum lagi harus mengangkat telpon yang kadang dicaci dimaki dan dibentak-bentak oleh investor. Membuat saya trauma dengan yang namanya dering telpon.

Kenapa saya harus ngangkat telpon dari para investor tersebut, padahal saya tidak didevisi itu?
Telpon kantor cuma satu, karena kadang supplier-supplier menghubungi saya melalui telpon kantor, dan kalau ada telpon masuk tidak muncul nomer si penelpon (ya elah ini telpon rumah kalik bukan ponsel), ya jadilah setiap ada telpon masuk, kalau yang lain ngga mau ngangkat terpaksa saya yang angkat.

Pffttt.... Itu tadi sekilas pengalaman saya menemui investasi bodong secara nyata. Bahkan ditempat saya bekerja. Saya yakin, jika anda ingin menginvestasikan uang, pasti sudah menge-cek dan paham betul bahwa tempat investasi anda itu bukan investasi bodong. Be careful gaes :D

Post a Comment

0 Comments